Stephen Hawking: Surga Itu Hanya Cerita Bohong

 

Professor Stephen Hawking, manusia dengan reputasi tinggi yang dianugerahi otak luar biasa namun tidak mengakui adanya Tuhan. Otak manusia diibaratkan komputer (hukum deterministik?). Sir Isaac Newton yang sangat deterministik masih mau mengakui adanya Tuhan, dan konon merupakan tentara templar. Bahkan orang-orang seperti Kepler, Leonardo da Vinci, dan Einstein, percaya bahwa alam semesta diciptakan dan diatur Tuhan, dan berada dalam kendali-Nya (harunyahya.com).
Boleh jadi benar pandangan Karen Armstrong (Sejarah Tuhan, 1993) bahwa para ilmuwan telah menemukan tuhan yang mereka cari. Bagi sebagian besar ilmuwan, tuhan adalah akal pikiran. Alhasil, buat orang-orang seperti ini Tuhan telah mati atau memang tidak pernah ada. 
Berikut hasil wawancara yang penulis kutip dari tempo interaktif plus dua link untuk buku Stephen Hawking sang atheis.

Stephen Hawking: Surga Itu Hanya Cerita Bohong
Senin, 16 Mei 2011 | 13:58 WIB
Sumber: Tempo Interaktif 

TEMPO Interaktif, London - Dalam wawancara eksklusif dengan harian The Guardian, kosmolog dan ahli fisika Stephen Hawking menepis anggapan adanya surga. Hawking mengatakan kepercayaan mengenai surga atau kehidupan setelah mati adalah "cerita bohong" bagi orang-orang yang takut mati. Sebagai penegasan penolakannya terhadap nilai keagamaan, ilmuwan paling terkenal asal Inggris ini mengatakan tidak ada masa setelah otak kita berhenti bekerja.

Hawking yang didiagnosis menderita penyakit motor neurone ketika usianya 21 tahun ini juga mengungkapkan pendapatnya mengenai kematian, tujuan hidup manusia, dan peluang keberlangsungan hidup manusia. Penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan diperkirakan bakal mencabut nyawa Hawking. Namun, masa depannya yang dianggap suram tersebut justru membuat Hawking lebih menikmati hidup.

"Saya telah hidup dengan ancaman mati lebih dini selama 49 tahun. Saya tidak takut mati. Tetapi, saya tidak buru-buru mau meninggal. Saya masih mau melakukan banyak hal," ujar Hawking.

"Saya mengibaratkan otak sebagai sebuah komputer yang akan berhenti ketika komponennya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer-komputer yang rusak. Itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan," tambahnya.

Komentar Hawking tersebut sejalan dengan pendapatnya pada bukunya yang terbit pada 2010, The Grand Design. Di buku itu, Hawking menegaskan tidak perlu Sang Pencipta untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. Buku tersebut memicu kecaman dari para pemimpin agama termasuk Rabbi Lord Sack. Sack menuding Hawking memiliki logika mendasar yang keliru.

Hawking, 69 tahun, menderita sakit keras setelah ceramah keliling Amerika Serikat pada 2009. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Addenbrookes sehingga memunculkan kekhawatiran akan kesehatannya. Sejak itu, ia kembali ke Cambridge sebagai direktur penelitian.