Sakaratul Maut

Guys .. sakaratul maut itu peristiwa yang luar biasa, bukan hanya sekedar lepasnya ruh dari tubuh. Kita tidak tahu prosesnya begitu hebat, hanya yang sedang mengalaminya saja yang merasakan sensasi itu, sensasi sakit yang luar biasa bagi orang mukmin dan sensasi keindahan bagi orang kafir. Kok bisa?
Setiap mukmin pasti punya dosa, sekecil apapun. Karenanya, untuk mencapai derajat surga, sang mukmin disulitkan dengan proses kematian sehingga yang tersisa adalah kebersihan dari dosa. Semua kekotorannya 'dicuci' dengan siksa sakaratul maut sehingga yang tersisa adalah kebaikannya.
Nah kalo yang kafir dimudahkan kematiannya, dihabiskan kebaikannya, sehingga yang tersisa adalah warna hitam di seluruh jiwanya. So, jangan nuduh yang engga-enga jika ada mukmin mengalami penderitaan yang hebat dalam proses kematiannya.  Juga, jangan muji-muji dulu kalau ada maling kelas kakap meninggal dengan tenang.  
Dari Salman al-Farisi, Rasulullah saw bersabda: Perhatikan jika seseorang menghadapi kematiannya. Jika di dahinya berkeringat, kedua matanya mengeluarkan air mata, dan cuping hidungnya melebar, yang demikian menunjukkan rahmat Allah yang turun bersamanya. (H. R. At-Turmudzi). 
Sebagian ulama berpendapat bahwa keluarnya air mata dan keringat dari dahi sang mayit adalah karena rasa malu kepada Allah atas kemaksiatan kepadaNya. Kita yang kotor dan hina berhadapan dengan Sang Maha Suci. Adapun cuping hidung mengembang, ya, karena Allah melimpahkan kabar gembira untuknya. Gambarannya, kalo mau sidang skripsi, kita yang agak pinter (artinya: banyak begonya) ketemu penguji yang sok pinter kan suetresss. keluar keringat malah pengen nangis. Trus, kita juga kalo dipuji ema or abah kan cuping hidung melebar hampir menutupi wajah. 
Nah, kita berdasarkan Hadits ini kita bisa prediksi apa yang menimpa seseorang yang meninggal. Kalau dahinya berkeringat, berarti aman-aman saja. Tapi kalau sakaratulnya grokkk .. grokkk .. grokkk bunyinya .. hiiiiyyy Naudzubillah.
Kalau begitu, proses kematian itu sakit ya?
Diriwayatkan, ketika nyawa Nabi Musa as dikirim menuju Allah:
- Allah: Bagaimana engkau merasakan kematian?
- Nabi Musa as: Saya merasakan nyawa saya seperti burung yang masih hidup ketika  
   digoreng di atas penggorengan (riwayat lain: Saya merasa seperti seekor kambing yang dikuliti oleh tangan penyembelih)
- Allah: Musa, kami telah memberikan kemudahan kepadamu.
Itu teh sakaratul mautnya Nabi Musa as, Nabi Besar. Lantas bagaimana dengan kita yang sehari-hari anteng sama dosa .. Duh .. lutut saya serasa lepas.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra mengatakan: Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seribu tebasan pedang adalah lebih ringan daripada kematian di atas tempat tidur. Aaaaaaaa ... dada serasa sesak dan penglihatan saya menjadi buram.
Dari Anas bin Malik ra Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya malaikat itu mengelilingi dan dan memagari seorang hamba yang akan meninggal dunia. Sebab kalau tidak, ia akan terlempar oleh kerasnya tekanan sakaratul maut ke padang pasir atau gurun sahara. Olalaaaaa .. serasa copot jantungku. 
Pasti ada solusi. 
Solusi pertama, supaya proses kematian berjalan aman, nyaman, dan indah seperti di film-film, berarti kita harus kafir. Ouww tentu tidak, karena bakal kebagian neraka yang kekal entah lapis keberapa yang jauuuhhhhh lebih mengerikan. Jangankan neraka, siksa kubur saja jauh lebih mengerikan dari sakaratul maut. Siksa di Padang Mahsyar konon 70 kali lipat lebih mengerikan dari siksa kubur. Nah neraka? Beneran, menggigil ni badan membayangkannya. 
Solusi kedua, berjihad dengan berperang di jalan Allah persis seperti pendahulu kita para shahabat. Lha kalau para shahabat jelas mengikuti Rasulullah saw. Kita jihad ngikut siapa? ngikut yang ngaku-ngaku nabi? ngaku-ngaku dapet wangsit? emang sepakbola  atau tinju ada wangsit segala ... aya-aya wae ..
Solusi ketiga, ya ikuti saja dengan ikhlas apa yang agama ajarkan dan selalu mohon rahmat dan ampunan Allah swt. However, begitu banyak aliran agama, sekte, tarekat, apapun namanya yang saling klaim: we are ahlul jannah .. our way is the only way to jannah ..  mana yang benar? sampai-sampai di tengah kebingungan saya ingin berteriak 'i love ike nurjannah'.
Tapi saya yakin, kalau kita memahami makna Al-Fatihah dalam shalat , pasti Allah memberi petunjuk, memberi jalan yang diridhoi-Nya. Tapi shalatnya yang benar, sesuai shalat Rasulullah saw. Sebelum shalat sempurnakan wudhu, sebelum wudhu gosok gigi dulu karena kata ulama gosok gigi atau siwak (siwak bukan biawak!) bisa mengurangi siksa sakaratul maut. Trus, coba ganti kebiasaan cetat cetot mijit keypad hp, entah sms ato onlen, ganti dengan berdzikir dan jari digunakan sebagai sarana menghitung desah asma Allah.
Yakinlah kalo petunjuk Tuhan kita, Allah, pasti benar. Jangan khawatir, janji Allah bersifat deterministik bukan probabilitas, pasti adanya. Jangan seperti lady gaga yang berdendang: 
I’m beautiful in my way,
‘Cause God makes no mistakes
Nah ini probabilistik. Hai lady, kalo kalian pada jelek semua berarti tuhan kalian berbuat salah ya .. pikirannya hellenic banget sih, masa tuhan identik kaya zeus atau poseidon yang kerjaannya berantem and bikin hamil manusia .. tuhan model gituan mah ga bisa dimintai petunjuk yang benar. Masa tuhan boleh salah, probabilistik dong, ntar ujung-ujungnya derajat kesalahan (error) .. emang statistik! .. dasar lady gkgkgkgkgkgk ..
Beruntunglah Rasulullah mewariskan Al-Qur'an, Al-Hadits, serta para Shahabat (plus para Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in) yang dapat kita jadikan rujukan. Jangan kemana-mana patokannya: Al-Qur'an, Al-Hadits, para Shahabat, para Tabi'in, dan para Tabi'ut Tabiin. Jangan ke yang lain-lain yang ga jelas juntrungannya, apalagi ama ajengan dadakan atau ajengan proyek.
Pede aja ngadepin siksa sakaratul maut biar kita bersih, toh misi kita ke Surga dan melihat Allah yang Maha Indah setiap hari jum'at. Bukankan untuk sesuatu akhir yang indah butuh pengorbanan? Inget waktu di dunia, bukankah kita berani nolak permintaan emak supaya beli kecap ke warung ato ikhlas melintasi hujan angin demi panggilan sang kekasih tercinta?
Mudah-mudahan, saat sakaratul maut, kening kita basah, air mata menetes, dan cuping hidung mengembang. Rahmatilah kami ya Allah. Amin.

Referensi
as-Suyuthi, Imam Jalaluddin. 2005. Ziarah ke Alam Barzah. Pustaka Hidayah